Asap yang Membakar Stigma

Binar Perempuan

Torches of Freedom

Berdasarkan konten Risyad and son mereka membahas tentang Torches and freedom. Dalam konten tersebut mereka membahas awal mula dimanipulasinya perempuan oleh sejumlah tokoh termasuk pemilik industri tembakau pada abad 20an demi keuntungan dan memperluas pasar. ini berawal dari George Washington Hill Presiden Tobaco Company di Amerika mengungkapkan keingininannya  ke Edward Bernays yang pada saat itu dijuluki sebagai "The father of public relation" bahwa ia ingin lebih memperluas pasarnya. Kemudian Bernays mengunjungi sekaligus berkonsultasi kepada seorang Psikoanalisis bernama AA Bill mencari apa arti rokok bagi perempuan. Mereka memanfaatkan gerakan feminisme sebagai ajang promosi demi keuntungan industri tembakau, mereka ingin produk mereka (rokok) dijadikan simbol dari pemberontakan dominasi para kaum laki-laki yang merendahkan perempuan. Disinilah muncul Torches of Freedom (Obor Kebebasan), lewat momentum paskah tahunan mereka menjalankan aksi ini sekaligus memanipulasi para perempuan lewat media.

Dari informasi ini, muncul pertanyaan dalam benak saya "apakah merokok benar-benar simbol dari kebebasan perempuan atau justru ilusi kebebasan yang diciptakan sejumlah pihak demi meraup keuntungan?"

Rokok sebagai Simbol Kebebasan

Meskipun fakta sejarah menunjukkan adanya kampanye tersturktur yang memanfaatkan isu ini, disisi lain penerima pesan juga mungkin memaknainya secara berbeda, sebagai bentuk ekspresi kebebasan mereka sendiri. saya percaya bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan penuh untuk memaknai simbol tersebut secara pribadi dan authentik, di luar dari narasi komersial yang ada dibaliknya. Jadi ini bisa dilihat sebagai dua hal yang terjadi bersamaan yaitu manipulasi dari atas dan dimaknai sendiri dari bawah. 

Kita sama-sama tahu bahwa hingga saat ini, masih terjadi ketimpangan sosial dan stigma antara perempuan dan laki-laki. Ada beban moral yang lebih berat diletakkan pada perempuan dibandingkan laki-laki bukan hanya dalam hal ini saja tapi dalam hal pelecehan seksual yang bahkan perempuan sebagai korban, penampilan, dan ekspektasi masyarakat tentang "menjadi ibu yang sempurna".

Dengan adanya stigma pada saat itu tentang perempuan merokok adalah hal yang tidak bermoral hingga dicap negatif dan dikaitkan dengan pelacur. Dibandingkan dengan laki-laki yang justru menjadikan rokok sebagi simbol maskulinitas dan dominasi, ini tentu saja terjadi ketimpangan sosial, ini menunjukkan betapa patriarki bekerja, seolah tubuh perempuan harus tunduk pada norma yang dibuat laki-laki. Bukan sekedar mengatur tubuh perempuan, tapi juga mengontrol simbol-simbol kebebasan mereka. Dan sayangnya, rokok dijadikan alat untuk mengekang sekaligus alat untuk menjual. 

Rokok, pada hakikatnya adalah racun yang merusak tubuh manusia. Baik itu paru-paru laki-laki atau perempuan, dampaknya sama-sama mematikan. Namun, ditengah kesetaraan bahaya itu, muncul ketimpangan sosial yang begitu nyata. Laki-laki yang merokok dianggap wajar, bahkan maskulin, sementara perempuan dicap menyimpang, tidak bermoral, bahkan dilekatkan dengan label hina. Perempuan ditindas dua kali, oleh asap yang merusak kesehatan, dan oleh stigma yang merusak martabat.

Lebih parah lagi, industri rokok pernah menjual ilusi kebebasan itu. Mereka memanfaatkan simbol emensipasi perempuan, menjadikan sebatang rokok sebagai obor kebebasan, padahal yang dijual hanyalah asap yang merusak.

Maka kritik ini bukan sekedar tentang rokok, tapi tentang sistem yang menindas. Rokok hanyalah metaforaa kecil dari ketidakadilan besar yang dialami perempuan. Tubuh perempuan selalu lebih mudah dihakimi, selalu lebih mudah dicap, dan selalu lebih rentan dijadikan alat dagang. Maka, Kebebasan sebenarnya adalah ketika perempuan dapat memilih tanpa prasangka, berdiri tanpa stigma, dan hidup tanpa harus tunduk pada patriarki.

Posting Komentar

0 Komentar