Apa itu Patriarki?
Sejauh yang saya pahami, Patriarki merupakan sistem yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan, pengambil keputusan utama, sehingga menempatkan perempuan di posisi yang kurang memiliki akses terhadap kekuasaan ekonomi bahkan pendidikan. Ini banyak terjadi dalam banyak rumah tangga di Indonesia, terutama di Sulawesi Selatan. Dari apa yang saya lihat dari banyak rumah tangga di lingkungan sekitar, Laki-laki dilayani selayaknya raja, makannya yang harus tersedia tertata rapi hingga disediakan piring dan gelas khusus, bajunya yang dipastikan harus bersih dan tersedia, dan masih banyak perlakuan khusus lain. Banyak kesalahpahaman tentang patriarki yang menganggap tradisi atau bahkan sifat alamiah laki-laki, padahal sebenarnya ia adalah sistem sosial yang terstruktur dan bisa berubah. Banyak pula yang salah menafsirkan ajaran agama atau budaya sehingga seolah-olah patriarki mendapat legitimasi mutlak.

Dengan adanya sistem ini banyak pernyataan "perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi karena ujungnya akan di dapur " dari masyarakat, sehingga pendidikan bagi perempuan tidak diprioritaskan. Seolah pengabdian dalam rumah tangga merupakan pelabuhan terakhir bagi seorang perempuan. Segala impian dan cita-cita seorang perempuan terkubur begitu saja, banyak perempuan jadi cacat logika dan tak sadar bahwa dirinya sedang ditindas karena kurangnya pendidikan, dan tak berhak bersuara
Kemunculan Feminisme
Feminisme kemudian muncul sebagai gerakan yang menuntut kesetaraan gender. Gerakan ini lahir sebagai respons terhadap dominasi patriarki dan diskriminasi terhadap perempuan.
Awal mula kemunculan gerakan feminisme pada akhir abad ke-19 - awal abad ke-20, diisi oleh tokoh penting yaitu Susan B. Anthony, Elizabeth Cady Stanton, dan Emmeline Pankhurstt. Mereka fokus pada Hak hukum bagi perempuan untuk memilih dalam pemilihan umum, Memungkinkan perempuan yang sudah menikah untuk memiliki, mewarisi, dan mengolah harta benda secara independen dari suami mereka, Memperluas akses pendidikan tinggi dan pelatihan profesional, Memperoleh pengakuan sebagai warga negara independen, bukan lagi sebagai tanggungan hukum dari suami.

Adapun tokoh penting Feminisme yaitu :
Mary Wollstonecraft (Inggris, abad ke-18) Berdasarkan artikel wikipedia, Wollstonecraft menulis sebuah karya filsafat proto-feminis yang berjudul A Vindication of the rights of woman: with strictures on political and moral subjects, yang kemudian disebut Rights of Woman. Menurut Wollstonecraft, pendidikan sangat penting juga bagi perempuan dalam peran mereka membesarkan anak dan bertindak sebagai pendamping terhormat bagi suami mereka. Wollstonecraft memperjuangkan bahwa sebagai manusia, perempuan harus memeperoleh hak-hak dasar yang sama seperti laki-laki. Ini merupakan salah satu karya awal yang menuntut kesetaraan pendidikan bagi perempuan.
R.A Kartini (1879-1904) melalui surat-suratnya yang dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menguraikan pemikirannya terkait berbagai masalah, salah satunya terkait tradisi feodal, poligami, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan. kartini mengungkapkan tuntutan masa depan bagi perempuan tanah Bumiputera dalam sistem partriarki. Kekecewaannya terhadap sistem tersebut sempat melontarkan " Saya teramat benci pernikahan. Pekerjaan yang serendah-rendahnya akan saya kerjakan dengan rasa syukur dan rasa cinta, asal saya bebas dari keharusan menikah".

Peran Ilmu dan ekonomi terhadap Kebebasan Perempuan
Sampai saat ini banyak hak perempuan yang masih terabaikan, salah satunya kekerasan seksual yang masih kurang ditangani serius,masih ramai cacat logika dalam argumen sosial yang menjustifikasi diskriminasi misalnya "perempuan tidak cocok memimpin". Maka dari itulah pendidikan bagi perempuan merupakan pondasi yang kuat dalam memperjuangkan hak perempuan yang terabaikan itu. Dengan ilmu, perempuan tumbuh menjadi sosok yang mampu membawa kita menuju era perempuan merdeka, dimana perempuan bebas menentukan jalan hidupnya tanpa terpenjara oleh ketimpangan hak, stigma seksual, pembatasan peran, dan kontrol tubuh yang sering dijadikan alasan untuk menghakimi.
yang menarik perhatian saya juga yaitu pernyataan ibu gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos yang merupakan gubernur perempuan pertama di maluku utara
dari pernyataan beliau saya tersadar bahwa memang betul, salah satu kekuatan yang harus dicapai perempuan adalah menghasilkan nilai ekonomi untuk dirinya sendiri. Di Zaman kapital ini Perempuan tertindas terbungkam karena tak punya kuasa dan tak kuat secara finansial, bergantung pada laki-laki untuk dinafkahi sehingga takut mengambil keputusan. saya melihat langsung banyak ibu rumah tangga yang tertekan namun memilih bertahan karena alasan ekonomi, sebab dunia luar sana keras untuk perempuan, pandangan negatif terhadap ibu tunggal (janda),masih minim pekerjaan untuk perempuan terlebih lagi yang sudah berumur. Dari sinilah banyak perempuan yang memilih menjual dirinya karena tak punya pilihan lain, demi bertahan hidup.
Di tengah arus sejarah yang sering menyingkirkan perempuan ke pinggiran, muncul harapan bahwa masa depan akan berbeda. Masa depan di mana ilmu pengetahuan menjadi cahaya penuntun menuju kebebasan, ekonomi menjadi jalan menuju kemandirian, dan budaya tak menjerat lagi perempuan dengan stigma atau sanksi sosial. terbayang sebuah era kesetaraan, ketika perempuan mampu berdiri tanpa rasa takut, suaranya dapat didengar tanpa batasan, dan hak-haknya terpenuhi tanpa syarat. Harapan ini bukan sekedar mimpi, tapi janji yang harus diperjuangkan agar generasi mendatang mengenal dunia yang damai, tentram dan adil bagi setiap perempuan. Sebuah dunia di mana kebebasan bukan lagi cita-cita, melainkan kenyataan yang mengiringi langkah mereka.
0 Komentar