Mosaik yang Bersemi
Selama ini, ia merasa dirinya adalah sebuah Gelas kaca yang indah namun retak seribu. Ada satu peristiwa yang menghantamnya begitu keras. Untuk waktu yang lama, ia hanya duduk diam di tengah puing-puing itu, memandangi pantulan dirinya yang tak lagi utuh. Ia merasa asing dengan perempuan yang ada di cermin, matanya redup, dan suaranya seolah tertinggal di masa lalu yang tak bisa ia jangkau lagi.
Awalnya, ia mencoba merekatkan kembali kepingan itu dengan paksa, berusaha menjadi 'perempuan yang dulu' yang ceria, yang tak punya beban, yang tak tersentuh luka. Namun, setiap kali ia mencoba berpura-pura, retakan itu justru semakin menyakitkan. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa kembali menjadi orang yang sama sebelum badai itu datang.
Titik Balik
Suatu hari, ia berhenti mencoba menyembunyikan retakannya. Ia mulai mengambil kepingan-kepingan dirinya satu per satu, bukan dengan kebencian, melainkan dengan penerimaan yang tenang. Ia menyadari bahwa setiap luka dan trauma yang ia alami telah memberikan warna baru pada karakternya, warna yang lebih gelap, namun lebih dalam.
Ia mulai menanam tunas baru dalam kesehariannya. Jika dulu ia selalu mendahulukan suara orang lain, kini ia mulai belajar mendengarkan bisikan hatinya sendiri. Jika dulu ia takut pada keheningan, kini ia menjadikan kesunyian sebagai ruang untuk berdialog dengan batinnya. Akarnya kini menghujam lebih dalam ia tidak lagi mudah goyah oleh pendapat dunia karena ia telah menemukan sumber kekuatan di dasar jiwanya yang paling dalam.
Sosok yang Baru
Perempuan yang berdiri sekarang bukanlah korban dari masa lalunya. Ia adalah seorang arsitek dari masa depannya sendiri. Ia masih memiliki bekas luka mungkin dalam bentuk kecemasan yang sesekali datang atau ingatan yang tiba-tiba melintas tapi luka itu tidak lagi mendefinisikan siapa dia.
Luka-luka itu kini tampak seperti garis emas di atas keramik halus. Mereka menceritakan tentang seorang perempuan yang pernah hancur, namun menolak untuk menyerah. Ia kini berjalan dengan langkah yang berbeda, tidak lagi terburu-buru untuk menyenangkan semua orang, tapi melangkah dengan kepastian seorang pejuang yang tahu persis seberapa mahal harga kedamaian yang ia miliki sekarang.
0 Komentar